Ayi Suteja Dari Gunung Puntang Sampai Atlanta

Titimangsa, BANDUNG – “Siapa yang menanam disitu akan menuai hasil,” mungkin pepatah ini sangat cocok disandang Ayi Suteja pria kelahiran Bandung 48 tahun silam. Pria berperawakan kurus dengan penampilan sederhana ini sangat ramah ketika dipinta Titimangsa untuk menceritakan keberhasilannya menembus dunia melalui kopi. Ia menjelaskan dengan penuh semangat seakan ingin berbagi ilmu tentang pengalaman dirinya, khususnya dalam dunia kopi. Sehingga, sepertinya cukup layak bila dirinya disebut sosok paling berjasa dalam memperkenalkan kopi asal Jawa Barat ke tingkat dunia melalui ajang Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo 2016 lalu.

Kang Ayi sapaan akrabnya mengungkapkan, dirinya menggeluti ilmu perkopian sejak dirinya melihat kawasan gunung Puntang yang tandus akibat alih fungsi lahan oleh petani penggarap sayur-sayuran. Tepatnya pada 2011 lalu, muncul keinginan darinya untuk kembali melestarikan hutan sekaligus mengajak masyarakat setempat untuk memanfaatkan fungsi hutan namun memiliki nilai ekonomis tinggi. Pada akhirnya pria yang memiliki hobi sebagai pencinta alam ini, tergerak untuk membuat kondisi gunung Puntang kembali hijau serta memiliki manfaat ekonomis khususnya bagi masyarakat sekitar.

Dengan dibantu sahabat karibnya kang Uci, Ia mencoba menanam aneka jenis kopi dikawasan tersebut seperti jenis Robusta dan Arabica di bagian lereng gunung Puntang. Dalam beberapa tahun awal ia merintis usahanya, Ayi mengaku sempat mendapat pandangan sebelah mata dari masyarakat sekitar. Pasalnya, untuk menanam kopi mulai dari bibit membutuhkan waktu 5 tahun untuk menghasilkan biji kopi berkualitas. “Menanam dan merawat tanaman kopi itu butuh proses kesabaran dalam merawatnya,” jelas Ayi ditemui dalam acara ‘ngopi saraosna’ di Halaman Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Minggu (19/3).

Ketekunan dan keuletan memang sangat dibutuhkan untuk menghasilkan kopi terbaik. Dengan dibantu Mamad seorang petani setempat, akhirnya budidaya kopi yang dilakukan Ayi menuai hasil yang memuaskan. Bahkan, masyarakat sekitar yang tadinya bersikap acuh, pada akhirnya mulai ikut membantu dalam membudidayakan kopi. “Masyarakat akhirnya ada yang ikut-ikutan nanam walau masih berfungsi sebagai tanaman pagar untuk melindungi tanaman sayuran,” kata dia.

Seiring dengan berjalannya waktu, kopi yang ditanam petani hanya sebagai pembatas lahan sayuran mulai menampakan buah kopi sebagai cikal bakal kopi asli Jawa Barat. Dari pengalaman tersebut Ayi dan masyarakat setempat mulai mencoba serius untuk berkebun kopi dilahan milik Perhutani dengan dibantu dukungan pembibitan kopi Arabika dengan varietas Tipika.

Dengan memanfaakan lahan seluas 2 Hektar (Ha) Ayi membuat sistem Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Langkah ini adalah upaya Ayi untuk  memberi contoh kepada para  petani agar mau beralih dari usaha budidaya sayuran ke jenis budidaya tanaman tahunan ini. Tindakan itu tentu saja merupakan langkah simpatik dari Ayi. Bahkan, bukan hanya sekedar mengajak untuk melestarikan lingkungan atau melarang berbudidaya sayuran, akan tetapi melakukan aksi langsung yang dapat diikuti masyarakat setempat.

Replanting kopi pun dilakukannya di lahan-lahan bekas sayuran yang ditinggalkan para petani, sehingga pada 2016 ini luas pengembangan lahan budidaya kopi jenis Tipika di gunung Puntang yang dikelola Ayi sudah mencapai 4 Ha. Gayung bersambut, usaha dan jerih payahnya akhirnya mendapat dukungan dari  PT. Olam yang bergerak dibidang agribisnis dengan memberikan bibit kopi kepada kelompok tani yang dia bentuk.

Ada bagian cerita unik dipaparkan Ayi mengenai cara memilihara tanaman kopi ini. Menurutnya, salah satu pantangan yang paling mendasar untuk menghasilkan kopi dengan kualitas terbaik adalah tidak diperbolehkannya menggunakan pupuk kimia maupun obat pembasmi hama. “Ini semua harus alami kang, kalau mau pake pupuk juga boleh tapi harus pupuk organik dari kotoran ternak,” seraya menghirup kopi panas berkualitas yang dia sajikan.

Untuk menghasilkan Kopi berkualitas Ayi menceritakan, biji kopi yang telah masak di pohon harus dilakukan penyortiran dengan tingkat kematangan yang berbeda. Sampai akhirnya dia menemukan formulasi sendiri untuk menciptakan kopi yang memiliki kualitas yang diakui dunia.

Melalui lembaga yang bernama Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI), lembaga nirlaba yang berkedudukan di Jakarta. Nama Java Coffee mulai terangkat di kancah internasional pada ajang kejuaraan cita rasa kopi di Jakarta International Expo Nopember 2015 lalu. Pada event tersebut, kopi milik Ayi berhasil meraih nilai terbaik 1 (85,3) dan terbaik ke 2 (83,5). Sehingga, mulailah kopi milik Ayi dikenal secara luas dikalangan pencinta kopi.

Kemudian pada 2016 dengan difasilitasi Kementerian Perdagangan Republik Indonesia dan dukungan dari Caswells Coffee, yaitu lembaga penjamin mutu produk kopi dengan sertifikat standar Specialty Coffee Association of America (SCAA), menyeleksi kualitas produk kopi dari berbagai daerah di Indonesia yaitu sebanyak 74 sampel kopi, yang hasilnya diikutkan dalam Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo 2016 pada 14-17 April 2016 di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat (AS).

Dari 74 sampel, terpilih 20 besar dengan skor teratas untuk dipergunakan dibeberapa aktivitas di paviriun Indonesia dan Standar Specialty Coffee Association of America (SCAA) 2016, seperti kopi Gunung Puntang, Mekar Wangi, Manggarai, Malabar Honey, Atulintang, Toraja Sapan, Bluemoon Organic, Gayo Organic, Java Cibeber, Kopi Catur Washed, West Java Pasundan Honey, Pantan Raya, Arabica Specialty Gayo,  Arabica Toraja, Golawa, Redelong, Andungsari, Ende, Kopi Catur Hinay dan Temanggung. Dari 20 kopi terpilih itu, ternyata diantaranya terdapat 6 kopi yang berasal dari Jawa Barat, dengan scor terbaik diperoleh dari Kopi Gunung Puntang yang dibudidayakan Ayi, selain itu peringkat nomer 2, Mekar Wangi, disusul Malabar urutan ke 9, Java Cibeber ke 11, West Java Pasundan Honey peringkat 17.

)* Agys

 

 border=

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply