Doddie Pilih Berwirausaha Ketimbang Gelar Sarjana

Titimangsa, BANDUNG – Mencintai menggambar sejak belia, Doddie K. Permana menjelma menjadi seorang desain ternama. Namanya sudah tak asing lagi di dunia seni cipta karya, sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan konsumennya yang tidak hanya sebatas lingkup Nusantara, namun hingga ke negeri tetangga bahkan sampai luar benua. Maka tak ayal jika jasanya masih tetap diminta walau usianya sudah tak lagi muda.

Berbekal pengalaman pelatihan di Jepang satu tahun, serta mendapat kesempatan bekerja untuk perusahaan Jepang di Indonesia, Doddie mengawali karir sebagai pengusaha desain tekstil tahun 1981, dengan membuka toko sendiri miliknya. Total 7 tahun mendapat ilmu dari perusahaan asal negeri Sakura tersebut, sudah cukup baginya untuk mengetahui segala proses desain. Apalagi untuk tekstil, mulai dari fashion, interior, dan berbagai jenis tekstil lainnya telah dikuasainya dengan baik.

“(Ketika pemilik modal asal Jepang datang) waktu itu saya (masih berstatus) mahasiswa ITB seni rupa jurusan tekstil angkatan pertama tahun 72’. Pada tahun 74’, perusahaan-perusahaan Jepang datang ke Indonesia mencari anak didik untuk training selama dua tahun, satu tahun diantaranya di Jepang. Akhirnya saya terpilih bersama dua teman saya,” ucapnya kala dijumpai di rumahnya, Jl. Kertasari No. 5 Rt 05/16, Purbasari-Arcamanik, Bandung.

Dua tahun berlalu, ketika hendak kembali ke ITB bersama temannya, Doddie justru dirayu untuk melanjutkan bekerja pada perusahaan Jepang yang bernama Kanisatex itu. Pria yang lahir di Cihampelas, Bandung ini pun menerima rayuan tersebut dan mendapat tambahan kontrak selama 5 tahun masa kerja. Setelah kontrak tersebut habis, Alih-alih melanjutkan pendidikannya yang belum hatam, Doddie malah memilih berkarir sebagai pengusaha.

Bisnisnya terbilang tokcer saat itu. Konsumennya tidak hanya dari Indonesia saja, bahkan merambah ke mancanegara mulai dari Asia, Ameria, bahkan Eropa. Ia pun memiliki berbagai perusahaan dengan jumlah karyawan mencapai ratusan jiwa ketika tahun 80-an. Tak hanya berhenti sampai disitu, keahliannya di bidang desain tekstil membuatnya membuka jasa sebagai konsultan. Dari sana, sponsor-sponsor mulai berdatangan untuk memberangkatkan seniman kelahiran tahun 1948 ini ke negara-negara seperti Prancis, Italia, Amerika, Jepang, dan masih banyak lainnya.  Hal tersebut tentunya untuk memberikan pengetahuan tentang bagaimana cara mendesain dengan benar.

Memasuki usia senja, sadar akan tenaganya yang mulai melemah, Doddie merubah sedikit caranya berwirausaha. Bapak dari tiga anak ini tak lagi memiliki beberapa toko dengan ratusan karyawan. Akan tetapi cukup bersama istri dan asisten rumah tangganya di rumah, memproduksi segala jenis barang yang berkaitan dengan keahlian dan kesukaannya. Mulai dari kerudung, dasi, topi haji, cat untuk melukis kain, buku, dvd tutorial, hingga segala bahan dasar untuk mendesain semua ada disana. Hingga kini, tawaran untuk produk miliknya tak henti-hentinya mendapat permintaan. Rumahnya tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal saja, tapi juga sebagai tempat menyalurkan hobi, tempat memproduksi, tempat bertransaksi, serta tempat belajar berkreasi. Disana, ia juga membuka kursus untuk guru, mahasiswa, rumah yatim dan urt umum.

Dari pengalamannya di Jepang pula, ia sering mendapat panggilan untuk menjadi dosen tamu di berbagai Universitas di Indonesia. Kampus-kampus seperti UPI, ITB, UNS, serta pernah menjadi dosen luar biasa selama 10 tahun di STISI. Bahkan ia sempat mengajar di kampus Trisakti sebagai dosen tanpa gelar sarjana. Menariknya lagi, pria yang identik menggunakan peci ini tidak hanya diminta untuk mengajar mahasiswanya saja, namun juga dalam beberapa kesempatan, ia bahkan membagikan pengetahuannya kepada para dosen yang mengajar desain.

“(Dalam setiap pembelajaraan, saya) selalu bicara, khususnya untuk yang masih sekolah, jangan kejar casingnya (teorinya) aja dong, tapi isinya (keahliannya). Karena kerja benar sesuai teori, hasilnya belum tentu benar. Tapi kalau prosesnya benar maka hasilnya pun pasti akan benar. Saya lebih suka memperdalam proses ketimbang teori. Ini yg selalu saya ajarkan,” cetusnya.

Dari berbagai lika liku kehidupan yang dilewati oleh Doddie K. Permana, semua peristiwa pasti memiliki kesan tersendiri baginya. Dari yang membuat luka sampai yang membuat hati bahagia. Mulai dari melewatkan kesempatan menjadi seorang sarjana, memiliki pengalaman berkarir di Jepang, memiliki ratusan karyawan dengan mobil, toko, konsumen, serta hutang dimana-mana, hingga menikmati hari tua dengan melakukan sesuatu yang disuka, menjadi rangkaian perjalanan kehidupan yang takkan pernah dilupa. Namun satu hal yang selalu ia terapkan dalam pikirannya ialah “Saya percaya yang saya putuskan tidak salah!”.

)* Gugun Gunawan

 

 border=

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply