Ribuan Anak‎ se-Bandung Gelar Manasik Haji

Titimangsa, BANDUNG – Ribuan anak-anak diniah se-Kota Bandung melakukan pelatihan atau manasik Haji di ‎Lapangan Pusenif, Jalan Supratman, Kota Bandung, Minggu (19/02). Hal tersebut dilakukan agar mereka terbiasa dengan kegiatan Haji jika nanti mendapat undangan dari Allah SWT untuk berkunjung ke Tanah Suci.

Ibadah Haji atau Umroh sendiri merupakan satu kewajiban umat Islam bagi yang‎ mampu dalam hal finansial dan mampu juga secara fisik untuk melakukannya. Sebab, ibadah Haji adalah ibadah yang mengandalkan fisik, maka selain keimanan yang harus mantap, fisik pun harus kuat.

Ketua Forum Komunikasi Diniah Takmilah (FKDT) Jaka Muhlis selaku panitia mengatakan, kegiatan ini adalah implementasi dari kurikulum yang sudah diajarkan di tiap-tiap diniah. “Teori tentang rukun Islam yang kelima perkara naik haji sudah diberikan di sekolah diniah masing-masing, sedangkan manasik haji ini adalah implementasi dari teori tersebut,” katanya kepada titimangsa.

Menurut Jaka, implementasi kegiatan manasik Haji ini juga bertujuan untuk menanamkan nilai kerohanian ke dalam diri saat masih dini agar sewaktu mereka dewasa, mereka berkeinginan untuk melihat ka’bah secara langsung. “Yang jelas untuk memberikan pengalaman berhaji dan menanamkan nilai rohani kepada mereka, jadi suatu saat mereka dewasa mereka berkeinginan untuk datang ke sana,” jelasnya.

Acara manasik haji ini sangat menarik perhatian sekolah diniah yang ada di kota Bandung terbukti dengan jumlah peserta yang hadir mencapai 7000 anak diniah dari beberapa sekolah se-kota Bandung. “Ini peserta dari 30 kecamanan dan 500 diniah takmiliah dengan kualifikasi kelas 4 sampai kelas 6 Sekolah Dasar (SD), dan ini sudah berjalan selama 12 tahun berturut-turut,” ungkapnya.

Selain itu, Joko pun menerangkan prosesi manasik haji ini terbagi ke dalam  tiga cara menjalankannya, seperti yang di sebut Haji Tamatu, Haji Kiron dan juga Haji Imron. Di mana masing-masing prosesi tersebut, sambung dia, memiliki perbedaan di awalnya saja.

“Dari ketiga rangkaian tersebut memiliki perbedaan di awal saja, misal Haji Tamatu itu di awali dengan umroh dulu (towaf) lalu berhaji, sedangkan haji Imron itu haji dulu yaitu jumroh dan Kirin itu digabungkan. Dan selama 12 kali sudah berjalan, kita sudah lakukan semua karena tiap tahunnya selalu berubah,” jelasnya.

Senada dengan Joko, Koordinator dari Aliah Almuhajirin Cibiru, Hapid dimyati (35) mengatakan, kegiatan manasik haji ini sangat bagus untuk anak. “Untuk menyiapkan mereka ketika mereka di undang sama Allah untuk datang langsung ke Mekah sana,” ucapnya.

)* Ipan Sopian

 

 border=

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply