Sekilas Sejarah Situs Lemahtamba Cirebon

Titimangsa,  CIREBON – Situs Lemahtamba di Desa Lemahtamba, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon ramai dikunjungi orang dari berbagai daerah, apalagi pada malam Jumat Kliwon. Tanah dan air dari sumur tersebut merupakan peninggalan Pangeran Suryanegara atau Raden Walangsungsang salah seorang putra Kerajaan Pajajaran.

Menurut sebagian masyarakat, tanah dan air tersebut konon bisa dijadikan obat yang dalam bahasa Cirebon adalah “tamba”, tak heran apabila nama daerah yang sebelumnya Pademangan Ci Kujang itu berubah menjadi Lemahtamba.

Kuwu Lemahtamba yang juga juru kunci situs tersebut, H Kusnan Agustian, SH (56) mengatakan, asal-usul Lemahtamba tidak lepas dari pusaka Kujang milik Raden Walangsungsang yang merupakan salah seorang putra Prabu Siliwangi dan bergelar Pangeran Suryanegara. Beliau pernah menancapkan Kujang ke tanah yang kemudian keluar air.

“Jadi dulu sekitar abad ke-14, daerah ini awalnya bukan Desa Lemahtamba, tetapi Pademangan Ci Kujang, namun, pada perkembangannya air sumur dan tanah tersebut oleh masyarakat pada masa itu dijadikan obat atau Tamba akhirnya dikenal menjadi Lemahtamba,” kata Kusnan di sela-sela menerima kunjungan ‎Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Cirebon, Uuk Sukarna di Situs Lemahtamba, Rabu (01/02).

Sesuai cerita orang-orang tua zaman dahulu, kata Kusanan, ketika terjadi sayembara Nyi Ratu Mas Gandasari, salah seorang Srikandi Cirebon, barang siapa yang bisa mengalahkannya maka akan menjadi calon suami Putri cantik jelita yang sakti mandraguna. Majulah banyak ksatria, namun, tak ada yang mampu mengalahkan tokoh perempuan itu.

Tersebutlah Syarif Arifin yang kelak bergelar Sekh Magelung asal Bagdad yang turut menyaksikan sayembara itu. Ketika Gandasari melemparkan selendang kencana tidak disengaja mengenai Syarif Arifin yang kemudian sakit, lemas tanpa tenaga.

Selanjutnya, Sharif Arifin menuju padepokan Ci Kujang. Ketika beristirahat bermimpi bertemu dengan seorang kakek yang pernah dikenalnya dan menyarankan agar meminum air dan membalurkan tanah dari Ci Kujang pada bagian yang sakit.

Setelah dipraktikkan dengan berdoa kepada Allah dan menyebut nama Pangeran Suryanegara, mendadak sakitnya sembuh dan kembali bertenaga. Diduga berawal dari sinilah air dan tanah Lemahtamba akhirnya digunakan masyarakat untuk berbagai keperluan.

“Wallahjaklam bisowab. Tapi ketika ada tamu meminta air dari sumur Pangeran Suryanegara saya minta syarat yaitu ibadah lima waktunya harus bener,” kata Kusnan.

Sementara itu, Kabid Kebudayaan Disbudparpora Kabupaten Cirebon, Uuk Sukarna mengatakan, kedatangannya ke Situs Lemahtamba sengaja untuk meninjau langsung kondisi situs yang pada tahun ini rencananya akan dilakukan renovasi, karena sering kebanjiran.

Disebutkan, ada tiga lokasi di wilayah Utara Kabupaten Cirebon yang akan mendapatkan bantuan renovasi dari pemerintah, diantaranya Gedung Kesenian di Gegesik yang akan memanfaatkan bekas bangunan kecamatan lama Gegesik, Situs Lemahtamba dan Gapura Kramat Sekh Magelung Sakti di Desa Karangkendal, Kecamatan Kapetakan.

“Ini merupakan usulan dari Musrenbang kecamatan tahun 2016, namun baru direalisasikan tahun 2017,” jelas Uuk.

*) Akim Garis ‎

 

 border=

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply