Misteri Nyai Ronggeng & Penyapu Uang Jembatan Sewo Indramayu

Titimangsa, INDRAMAYU – Bila anda menyusuri jalur Pantura baik dari arah Jakarta menuju Indramayu atau sebaliknya, ketika melintasi Jembatan Sewo Kecamatan Sukra, persis di sepanjang Jembatan Sewo terlihat jejeran orang dengan usia yang beragam membawa sapu atau Pengais yang terbuat dari kayu yang digunakan untuk merebut uang yang dilempar penumpang kendaraan yang melintasi jembatan sewo.

Jahari (Sesepuh Sukra)

Konon pelintas jembatan yang berasal dari luar daerah harus melemparkan uang receh, agar mendapatkan keselamatan. “Jembatan kali sewo sangat angker tiap tahun sering memakan korban. Biar selamat merekah tawur uang” kata Jahari (65) tokoh masyarakat setempat.

Entah sudah berapa lama dan siapa yang memulai, lanjut Jahari, mitos itu hingga sekarang masih diyakini sebagian orang. Meski memliki sisi positif yakni membawa rezeki bagi warga Sewo, namun berebut uang diantara lalu lalang kendaraan di jalur Pantura yang padat dapat mengancam keselamatan jiwa pengais uang receh dijembatan itu.

Supali Kasim (Budayawan Indramayu)

“Keberadaan mitos Kali Sewo, kata dia, tidak lepas dari kisah Saidah Saeni yang melegenda di masyarakat Indramayu. Yakni tentang seorang penari Ronggeng yang melanggar sumpah, lalu berubah menjadi buaya putih penghuni jembatan,arwahnya sering mengganggu,” tuturnya.

Budayawan Indramayu Supali Kasim membenarkan adanya mitos melempar uang recehan pelintas Jembatan Sewo dihubungkan dengan cerita rakyat prahara satu keluarga yang dilanda prustasi dan penyelasan mengakhiri hidupnya dengan menceburkan diri di kali sewo.Ungkap Supali. “Cerita rakyat Saidah Saeni semakin meluas ketika group tarling Nada budaya pimpinan Sunarto Martaatmaja, mengangkatnya dalam drama tarling,” ucapnya.

Al kisah dituturkan Supali, Sarkawi dan istrinya memiliki dua orang anak, Saidah dan Saeni. Pada suatu Ketika Sarkawi berniat menunaikan ibadah haji. Dalam perjalanannya, Sarkawi tergoda oleh kecantikan penari ronggeng bernama Maemunah. Sarkawi dan Maemunah akhirnya menikah tanpa sepengetahuan keluarganya di rumah. Sudah tujuh bulan lamanya Sarkawi tidak pulang ke rumah, sementara istri sarkawi sakit dan akhirnya meninggal dunia. Beberapa hari kemudian Sarkawi memutuskan untuk pulang dan membawa istri mudanya.

Setibanya di rumah Sarkawi terkejut karena mendapat kabar dari anaknya bahwa istrinya sudah meninggal. Suasana semakin membaik, Sarkawi pun memperkenalkan Maemunah pada kedua anaknya bahwa Maemunah adalah ibu tirinya. Tidak lama dari itu, Sarkawi pun pergi untuk mencari nafkah, sementara Maemunah pergi ke pasar. Sebelum pergi ia berpesan kepada Saidah dan Saeni, jika ia pergi, uang dan beras yang ada di meja jangan dipakai. Tapi karena Saeni lapar, beras pun dimasak oleh Saidah. Setelah Maemunah tahu, akhirnya ia mencaci-maki Saidah dan Saeni.

Karena tidak tahan dengan perilaku ibu tirinya, Saidah dan Saeni memutuskan untuk pergi dari rumah. Sebagai wujud permohonan maaf, Maemunah mengajak kedua anak tirinya itu berjalan-jalan ke kota. rupanya Maemunah bukan ingin mengajak jalan-jalan tapi ingin membuang Saidah dan Saeni itu di tengah hutan. Hari sudah malam, Saidah hanya bersama Saeni dan binatang malam di tengah hutan. Entah datang darimana ada seorang kakek tua yang mendekati Saeni lalu ia memberi petunjuk kepada Saeni, bahwa Saeni akan dijadikan penari ronggeng tapi mereka mengadakan perjanjian.

Setelah Saeni menjadi penari ronggeng, hidup mereka berdua menjadi lebih baik. Namun saeni melanggar perjanjian dengan sang kakek. Saeni berubah wujud menjadi buaya putih dan menceburkan diri di kali Sewo. Mendengar anaknya berubah wujud menjadi buaya, Sarkawi turut menceburkan diri ke kali mencari anaknya. Sementara Maemunah yang dilanda prustasi dan menyesali perbuatannya turut menceburkan diri. Saidah Kakaknya konon terus menunggu dipinggir kali dan berubah menjadi pohon bambu.

Tempat menceburkan diri Sarkawi dinamakan Balai Kambang. Berkaitan dengan tragedi itulah masyarakat meyakini penghuni kali Sewo merupakan penjelmaan keluarga Sarkawi, khususnya sosok Ronggeng, Saeni dan Maemunah yang suka saweran, masyarakat banyak meyakini bila melintasi jembatan menabur uang sebagai tolak bala, supaya mahluk gaib tidak mengganggu. wallahu alam bisowab.

*) Dedy Abbas

 border=

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply